MENU

Rabu, 14 September 2016

Tinjauan Pustaka : Model Pembinaan Karakter Siswa di MTsN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Hubungan dengan Penelitian Sebelumnya
Dalam rangka melengkapi sumber penelitian maka penulis mencoba menelusuri penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang mempunyai kesamaan objek kajian dengan penelitian ini. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan peneliti menemukan beberapa hasil karya ilmiah yang membahas pembinaan akhlak.
Diantara penelitian yang ada hubungannya dengan penelitian penulis ini adalah tesis yang dibuat oleh Wahyu Mustakim yang berjudul pengaruh penerapan pembinaan karakter di sekolah terhadap perilaku akademik siswa kelas X teknik computer di SMK PIRI Yogyakarta. Dalam penelitian ini digambarkan adanya pengaruh pembinaan karakter terhadap perilaku akademik siswa.[1] Selain itu ditemukan pula hasil penelitian dari Amanarus Sabroh yang berjudul Pengaruh Pendidikan karakter Terhadap Pembentukan Kejujuran Siswa Mts Negeri Galur Kulon Progo Yogyakarta. Dalam penelitian ini penulis menarik kesimpulan bahwa pembinaan karakter berpengaruh signifikan pada tingkat kejujuran siswa.[2]
Selain hasil penelitian di atas terdapat pula penelitian dari A.Hapidah yang berjudul Pelaksanaan Pembinaan      karakter Melalui Kegiatan Ekstrkurikuler Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone. Dalam penelitian A.Hapidah bahwa pembinaan karakter di MAN 1 Watampone berjalan dengan baik dan efektif pada kegiatan ekstrakulikuler.[3]
Dari dua tesis di atas dapat dilihat bahwa pembinaan karakter dapat berjalan dengan baik pada sekolah dan berdanpak positif pada pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter di sekolah/madrasah merupakan suatu sistem yang berupaya untuk menanamkan nilai-nilai luhur warga madrasah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. Dalam pelaksanaan karakter di Madrasah, semua komponen madrasah harus dilibatkan, termasuk kompenen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan madrasah, pelaksanaan aktivitas, atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan dan ethos kerja seluruh warga madrasah/lingkungan.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.




B.     Landasan Teori
1.      Kosep Pembinaan Karakter     
a.      Pengertian Pembinaan karakter
Pengertian karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter berarti sifat-sifat kejiwaan akhlak atau budi pekerti yang membedakan seorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak[4].
Sedangkan menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai beikut:
1)      Hornby and Parnwell mendefinisikan karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi.
2)      Simon Philips, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan.
3)      Doni Koesoema A. memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan’
4)      Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjutkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus, tentulah orang tersebut memanisfestasikan perilaku buruk. Sebaiknya apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ apabila tingka lakunya sesuai tingkah moral.
5)      Sedangkan Imam Ghozali mengangap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.[5]
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakter mengacu pada  kepribadian seseorang. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari keluarga pada masa kecil,  bawaan sejak lahir, masyarakat maupun dari lingkungan sekolah.
Pembinaan karakter dalam sekolah dilakukan pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Pembinaa karakter dalam sekolah banyak dilakukan di dalam proses pembelajaran dimana di dalam materi pelajaran ditanamkan nilai-nilai karakter seperti yang dikemukakan oleh Heri Gunawan sebagai berikut:
1)      Pembinaan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran;
2)      Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh. Asumsi anak merupakan organisme manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan dan dikembangkan
Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujut sekolah.[6]

Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terwujudkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hokum, tata karma, budaya, dan adat istiadat. Dari konsep karakter ini muncul konsep pendidikan karakter (character education).
Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses. Model pembinaan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Model  pendidikan karakter di madrasah adalah dengan melobatkan semua komponen (pemangku pendidikan), termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.
Pembinaan karakter di sekolah harus dilakukan secara teratur dan terarah agar siswa dapat mengembangkan dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan itu tentu tidak terlepas dari  beberapa faktor penunjang yang tersedia dan terlaksana dengan baik, seperti  tenaga pengajar yang baik serta faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap proses dari pembinaan akhlak secara keseluruhan.
Pembangunan karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem pendidikan yang benar. Pendidikan rumah tangga maupun pendidikan dalam sekolah, orang tua dan guru tetap sadar bahwa pembangunan tabiat yang agung adalah tugas mereka. Menurut Mochtar Buchori mengatakan pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata[7]. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji dan dicari altenatif-alternatif solusinya serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.
b.      Faktor-faktor Pembentukan Karakter
Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran karena pikiran, yang didalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.[8] Pikiran harus dikelolah dengan baik agar terbentuk karakter yang baik pada diri siswa.
Dalam pembentukan karakter, terdapat unsur-unsur pembentukan karakter sebagai berikut:
1)      Faktor keturunan (genetis) berpengaruh langsung dalam pembentukan kepribadian seseorang. Beberapa factor biologis yang penting seperti system syaraf, watak, seksual dan kelainan biologis, seperti penyakit-penyakit tertentu.  faktor genetic yang mempengaruhi karakter ialah sifat-sifat dan karakter-karakter individu yang biasa terlihat pada manusia yang terdapat pada sel-sel sperma kedua orangtua yang berpindah kepada anak-anak mereka[9]. Karakteristik-karakteristik yang terdapat pada sperma inilah yang menentukan perjalanan, perkembangan dan pembentukan kepribadian masa depan anak, baik di dalam maupun di luar rahim. Karakter seorang anak akan dapat pengaruh langsung dari karakter kedua orang tuanya.
2)      Faktor lingkungan fisik (geografis) Meliputi iklim dan bentuk muka bumi atau topografi setempat, serta sumber-sumber alam, Faktor lingkungan fisik (geografis) ini mempengaruhi lahirnya budaya yang berbeda pada masing-masing masyarakat. Keadaan lingkungan fisik atau lingkungan sosial tertentu memengaruhi kepribadian individu atau kelompok karena manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Contohnya, orang-orang Aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup karena kondisi alamnya yang kering dan tandus, sementara, bangsa Indonesia hanya memerlukan sedikit waktunya untuk mendapatkan makanan yang akan mereka makan sehari-hari karena tanahnya yang subur.[10]
3)      Lingkungan masyarakat dan kelompok yang beraneka ragam. Pengalaman kelompok yang dilalui seseorang dalam sosialisasi cukup penting perannya dalam mengembangkan kepribadian. Kelompok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang. Pada mulanya, keluarga adalah kelompok yang dijadikan acuan seorang bayi selama masa-masa yang paling peka. Setelah keluarga, kelompok referensi lainnya adalah teman-teman sebaya. Peran kelompok sepermainan ini dalam perkembangan kepribadian seorang anak akan semakin berkurang dengan semakin terpencar nya mereka setelah menamatkan sekolah dan memasuki kelompok lain yang lebih majemuk (kompleks). Selanjutnya adalah Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Dengan kata lain, masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya dan ukuran moral yang berbeda-beda.
4)      Faktor kebudayaan yang berbeda-beda. Perbedaan kebudayaan dalam setiap masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian seseorang misalnya kebudayaan di daerah pantai, pegunungang, kebudayaan petani, kebudayaan kota. Kebudayaan yang baik akan menghasilkan kepribadian yang naik. Hal ini dapat dikatakan demikian karena kebudayaan yang tertanam sejak usia dini pada seseorang cenderung lebih kuat untuk menangkal masuknya kebudayaan negatif pada seseoran. Tentunya dibutuhkan peranan orang tua untuk memperkenalkan anak pada ajaran-ajaran agama sejak dini. Kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepribadian. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perilaku manusia yang masih mencerminkan kebudayaan mereka masing – masing.
Faktor lingkungan dalam konteks pembinaan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pembinaan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi :
1.      Keteladanan
2.      Intervensi
3.      Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
4.      Penguatan.[11]
Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.
Pembentukan karakter individu pada umumnya melalui berbagai proses dimana banyak faktor yang berperan selama proses pembentukan karakter berlangsung. Karakter terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.V. Campbell dan R. Obligasi menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang:
1.      Faktor keturunan
2.      Pengalaman masa kanak-kanak
3.      Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua
4.      Pengaruh lingkungan sebaya
5.      Lingkungan fisik dan social
6.      Subtansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain
7.      Media massa[12]

Faktor-faktor yang yang berpengaruh dalam pendidikan karakter di atas sangat perlu untuk bekerja sama agar pendidikan karakter dapat berjalan lancar. Selain itu, Pendidik tidak kalah pentingnya dalam menjalankan dunia pendidikan. Seorang guru yang baik, pasti mampu memahami kebutuhan khusus setiap siswa yang nantinya dapat membantu dalam menyesuaikan diri dengan kurikulum yang sedang berlangsung. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan juga teladan yang nanti bakal ditiru oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu, pendidikan karakter seorang siswa juga dapat dipengaruhi oleh tingkah laku seorang guru, karena ketika seorang guru melakukan sebuah keteledoran tidak menutup kemungkinan siswanya juga akan melakukan hal yang sama, begitupun sebaliknya. Karena kecenderungan siswa ketika di sekolah, akan lebih banyak meniru perilaku seorang guru. Jadi guru juga memiliki peranan penting dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, karena guru itu “digugu dan dituru”.
c.        Proses Pembentukan Karakter
Secara alami, anak sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan menalar seorang anak belum tampak ada penyelesaian sehingga pikiran bawah sadar masih terbuka dan menerima apa saja informasi stimulus yang dimasukkan kedalamnya   tanpa ada penyelesaian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga
Pondasi tersebut adalah kepercayaan tertentu dan konsep diri.Jika sejak kecil kedua orang tua selalu bertengkar lalu bercerai, maka seorang anak bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa perkawinan itu penderitaan. Namun, jika kedua orangtua selalu menunjukkan rasa saling menhormati dengan bentuk komunikasi yang akrab maka anak akan menyimpulkan ternyata pernikahan itu indah.
Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambahkan pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah, peran pikiran sadar menjadi semakin dominan seiring perjalanan waktu, maka penyaringan terhadap informasi yang masuk melalui pikiran sadar menjadi lebih ketat sehingga tidak sembarang informasi yang masuk yang melalui pancaindra dapat mudah dan langsung diterima oleh pikiran bawah sadar.
Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasaan, dan karakter unik dari masing-masing individu.
Dalam literatur Islam ditemukan bahwa faktor gen/keturunan diakui sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pembentukan karakter.Misalnya, pengakuan Islam tentang alasan memilih calon istri atas dasar faktor keturunan. Rasul perna bersabda yang intinya menyebutkan bahwa kebanyakan orang menikahi wanita karena faktor rupa, harta, keturunan, dan agama.Meskipun Islam mengajarkan bahwa faktor terbaik dalam memilih calon istri adalah agamanya.
Akhir-akhir ditemukan bahwa faktor yang paling penting berdampak pada karakter seseorang disamping gen ada faktor lain, yaitu makanan, teman, orangtua, dan tujuan merupakan faktor terkuat dalam mewarnai karakter seorang. Dengan demikian jelaslah bahwa karakter itu dapat dibentuk berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa membangun karakter menggambarkan.

1)      Merupakan suatu proses yang terus-menerus dilakukan untuk membentuk tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan yang berlandaskan pada semangat pengabdian dan kebersamaan.
2)      Menyempurnakan karakter yang ada untuk mewujudkan karakter yang diharapkan.
3)      Membina nilai/karakter sehingga menampilkan karakter yang kondusif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilandasi dengan nilai-nilai dan falsafah hidup[13]
d.      Tahap-tahap pembinaan karakter
Secara teoretik nilai moral/karakter  berkembang secara psikologis dalam diri individu mengikuti perkembangan usia, Piaget merumuskan perkembangan kesadaran dan pelaksanaan aturan dengan membagi menjadi beberapa tahapan dalam dua domain yakni kesadaran dan pelaksanaan aturan dengan membagi beberapa tahapan dalam dua domain yakni kesadaran mengenai aturan dan pelaksanaan aturan. tahapan pembentuk karakter adalah sebagai berikut:
a.       Tahapan pada domain Kesadaran Aturan:
1)      Usia 0-2 tahun: Aturan dilakukan sebagai hal yang tidak bersifat memaksa.
2)      Usia 2-8 tahun: Aturan disikapi bersifat sakral dan diterima tanpa pemikiran.
b.      Tahapan pada domain Pelaksanaan Aturan:
1)      Usia 0-2 tahun: Aturan dilakukan hanya bersifat motorik.
2)      Usia 2-6 tahun: Aturan dilakukan dengan orientasi diri sendiri.
3)      Usia 6-10 tahun: Aturan dilakukan sesuai kesepakatan.
4)      Usia 10-12 tahun: Aturan dilakukan karena sudah dihimpun.[14]

Sedangkan penelitian Kohlberg sebagaimana yang dikutip oleh ahmad tafsir menhasilkan rumusan tiga tingkat/level dalam perkembangan moral, yakni:
a.       Tingkat I: Prakonvesional
1)      Tahap 1: Orientasi hukuman dan kepatuhan (apa pun yang mendapatkan pujian atau dihadiahi adalah baik, dan apa pun yang dikenai hukuman adalah buruk)
2)      Tahap 2: Orientasi instrumental nisbi (berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya, dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama)
b.      Tingkat II: Konvensional
1)      Tahap 3: Orientasi kesepakatan timbal balik (sesuatu dipandang baik untuk memenuhi tanggapan orang lain atau baik karena disepakati)
2)      Tahap 4: Orientasi hukuman dan ketertiban (sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut)
c.       Tingkat III: Poskonvensional
1)      Tahap 5: Orientasi kontak sosial legalistic (sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual)
2)      Tahap 6: Orientasi prinsip etika Universal (sesuatu yang dianggap baik telah menjadi prinsip etika yang bersifats universal dari mana norma dan aturan dijabarkan).[15]
Berdasarkan klasifikasi tersebut maka pembinaan karakter anak harus disesuaikan dengan dunia anak. Dengan kata lain, pembinaan karakter anak harus disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain  tahapan seperti yang di jelaskan di atas terdapat pula tahapan lain dalam pembentukan karakter seperti berikut:
1.      Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal antara yang baik dan yang buruk serta mengenal mana yang diperintahkan, misalnya dalam agama.
2.      Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta dididik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan shalat mereka.
3.      Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian antara usia 9sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama serta mau membantu orang lain.
4.      Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih anak untuk belajar menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk.
5.      Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya.[16]
Seperti di jelaskan di atas terdapat 5 tahapan pembentukan karakter. Setiap tahapan pembentukan karakter berkaitan erat dengan usia anak sehingga tidak semua karakter di paksakan kepada anak. Tahapan pembentukan karakter tersebut dapat di terima dengan baik oleh anak pada proses berikut:
1.      Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, seperti agama, ideologi, pendidikan dll.
2.      Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visi.
3.      Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan membentuk mentalitas.
4.      Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap.
5.      Sikap-sikap dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai karakter atau kepribadian.[17]
Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan harus memiliki tujuan dan sasaran yang akan dicapai, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Dalam kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada keluaran yang memiliki karakter.Adapun karakter yang dimaksud berjumlah 18 karakter. Berikut 18 karakter yang dimaksud:

1.      Religius : Sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.      Jujur : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
3.      Toleransi : Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.      Disiplin : Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.      Kerja Keras : Perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6.      Kreatif : Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7.      Mandiri : Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.      Demokratis : Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.      Rasa Ingin Tahu : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.
10.  Semangat Kebangsaan : Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.  Cinta Tanah Air : Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan rasa kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12.  Menghargai Prestasi : Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/Komunikatif : Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14.  Cinta Damai : Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15.  Gemar membaca : Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.  Peduli Lingkungan : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli Sosial : Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.  Tanggung-Jawab : Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.[18]
Karakter-karakter tersebut yang akan diupayakan untuk mengantarkan siswa agar mampu bersaing namun tetap memegang teguh karakter bangsa. Karakter seperti di atas bukann hanya sekedar di ajarkan untuk di ketahui peserta didik namun harus di tanamkan agar karakter tersebut menjadi perilaku dalam kesehariannya.
Selain 18 karakter di atas terdapat enam jenis karakter berdasar The Six Pillars of Character yang dikeluarkan oleh Character Counts Coalition ( a project of The Joseph Institute of Ethics) adalah sebagai berikut:
a.       Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal
b.      Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain.
c.       Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
d.      Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
e.       Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam.
f.       Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin[19]

Keenam karakter di atas sudah dapat mewakili 18 karakter yang telah di susun oleh kementrian pendidikan  Indonesia.
2.      Pembinaan Karakter Di Sekolah
a.      Pembelajaran
Upaya yang bisa dilakukan untuk pembinaan karakter siswa di sekolah di antaranya adalah dengan memaksimalkan fungsi mata pelajaran pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama dapat dijadikan basis untuk pembinaan karakter siswa tersebut. Guru agama bersama-sama para guru yang lain dapat merancang berbagai aktivitas sehari-hari bagi siswa di sekolah yang diwarnai nilai-nilai ajaran agama. Dengan cara ini, siswa diharapkan terbiasa untuk melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan yang pada akhirnya dapat membentuk karakternya.
Pemahaman mengenai arti pendidikan karakter akan ikut menentukan isi pendidikan karakter. Banyak orang berpikir, pihak yang dianggap bertanggung jawab dalam mendidik karakter atau budi pekerti adalah guru agama dan guru pendidikan budi pekerti. Pikiran demikian jelas kurang tepat karena masalah karakter atau budi pekerti akan berkaitan dengan satu dengan yang lain baik program pendidikan di sekolah maupun lingkungan. Pendidikan karakter atau budi pekerti sangat luas sehingga sesuatu yang tidak mungkin manakala hanya menjadi tanggung jawab guru agama ataupun guru pendidikan budi pekerti. Oleh karena itu, timbul gagasan tentang pentingnya kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) dalam setiap mata pelajaran yang tidak secara eksplisit ditulis dalam kurikulum.
Prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter yang terdapat dalam mata pelajaran sebagai hidden curriculum harus berlandaskan pada;
1)      Berkelanjutan; mengandung makna bahwa proses yang tiada henti, dimulai dari awal peserta didik masuk samapai selesai dari suatu satuan pendidikan bahkan sampai terjun ke masyarakat.
2)      Diajarkan melalui semua mata pelajaran dan dilengkapi dengan pengembangan diri dan budaya sekolah.
3)      Penanaman nilai-nilai atau norma-norma tidak hanya diajarkan tetapi dikembangkan dan dilaksanakan.
4)      Proses pendidikan harus dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan; guru harus merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi yang sudah dimiliki, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah dan tugas-tugas di luar sekolah.[20]

Setiap mata pelajaran harus menyertakan pembentukan karakter dalam pelaksanaan pembelajarannya meskipun tidak secar konkret tertulis dalam kurikulum tapi harus termuat dalam hidden curriculum yang diterapkan. Penerapan hidden curriculum pembentukan karakter tersebut harus dilandaskan pada prinsip-prinsip di atas.
b.      Ekstrakurikuler
Pendidikan idealnya mampu menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa didik untuk mengembangkan kesadaran diri, potensi, bakat dan kemampuan positif lainnnya secara optimal, sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dalam menyelesaikan setiap problem yang mereka hadapi dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagian peserta didik atau anak-anak mungkin membutuhkan lingkungan dengan struktur yang ketat dan dapat mengarahkannya tetapi mungkin sebagian yang lain lebih cocok dengan situasi yang longgar. Oleh karena itu pemberian tambahan pelajaran karakter atau menambah porsi pada kegiatan ekstakulikuler sekolah diharapkan mampu melatih, membersihkan dan menjaga kemurnian kasadaran para siswanya.[21]

Kegiatan ekstrakuler kepada siswa diharapkan mampu memberikan pengalaman hidup yang mereka butuhkan, melalui kegiatan ekstrakurikuler memberikan sumbangan yang berarti bagi siswa untuk mengembangkan minat-minat baru, menanamkan tanggung jawab sebagai warga negara, melalui pengalaman pembentukan karakter kerja sama, kemandirian, disiplin, toleran dan membangun karakter-karakter positif lainnya, jangan biarkan mereka mencari sendiri ruang ekspresi diri tanpa pengarahan dari guru, orang tua dan lingkungan sekitar.
Kegiatan ekstrakulikuler di sekolah merupakan kegiatan tambahan di luar jam formal dikelas, jika dinilai kegiatan belajar di kelas dirasa masih kurang, maka perlu adanya kegiatan tambahan yaitu kegiatan ekstrakulikuler yang orientasinya bukan hanya kepada pengembangan bakat mereka, tetapi kepada pembinaan karakter mereka. Ekskul diharapkan mampu melatih respon positif, dan sekaligus respon spontan peserta didik dalam memecahkan problem yang mereka hadapi, dengan kata lain mereka mempunya akhlaq (budi pekerti) yang baik, sehigga diharapakan mereka tidak lagi mudah marah, gampang tersinggung, intoleran, egois dan lain sebagainya. Ekskul diharapkan menjadi alternatif untuk mengurangi tindak atau perilaku negatif pelajar, misalnya: tawuran, gang motor pelajar, perilaku seks bebas, narkoba dan lain sebagainya.
Mengingat banyaknya problem moralitas, dan mentalitas yang menimpa bangsa ini, maka perlu pada sekolah-sekolah yang ada, baik tingkat dasar (SD), tingkat menengah (SMP) maupun tingkat atas (SMA) perlu diberikan kegiatan ektrakulikuler untuk pembinaan karakter/kepribadian anak. Pada masa anak-anak dan remaja, kepribadian mereka masih dalam tahap pencarian, perkembangan dan sifatnya labil, gampang dipengaruhi oleh lingkungan, gampang dipengaruhi oleh tanyangan-tanyangan negatif dari TV, internet, gang-gang anak muda, tawuran, narkoba, seks bebas dan lain sebagainya, oleh karena itu butuh perhatian lebih, dalam rangka mengawal perkembangan kepribadian generasi bangsa ini.
Menurut Anifral Hendri mengenai fungsi kegiatan ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :
1.      Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
2.      Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
3.      Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
4.      Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.[22]

      Dalam upaya melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler banyak sekali hambatan dan permasalahan yang harus dihadapi baik terhadap SDM, sarana dan dana, tingkat kepedulian orang tua daan masyarakat maupun petunjuk pelaksanaan ekstra kurikuler itu sendiri sehingga kegiatan ekstra kurikuler di sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya, apalagi saat ini siswa dituntut untuk belajar penuh pagi dan sore.
Pembinaan karakter maupun kepribadian tidaknya gampang, dan tidaklah singkat. Butuh proses lama untuk membentuk karakter/kepribadian yang baik pada seseorang, oleh karena itu pembinaan karakter harus dilakukan sejak dini dan harus mendapat porsi tambahan dari jam pelajaran di kelas (ekstrakulikurer).
Untuk membentuk karakter yang baik pada anak, diperlukan pembiasaan-pembiasaan perilaku yang positif, dalam hal ini peran guru dan orang tua sangat penting dalam mengawal kebiasaan yang dilakukan anak. Peran orang tua dan guru hendaklah mampu menjadi model yang ideal yang bisa mereka contoh, dari perilakunya, tutur katanya dan lain sebagainya.
Anak dalam kegiatan ekstrakuler ini dilatih untuk mempunyai respon reflek dengan baik dalam memecahkan setiap masalah yang mereka hadapi, hal ini butuh latihan dan pembiasaan dalam pengawalan guru dan orang tua.
Harapan dari kegiatan ektrakulikuler ini, nantinya anak mempunyai kecerdasan sosial, moralitas, arif dan bijaksana dalam menghadapi dan memecahkan problem yang mereka hadapi, bahkan problem yang dihadapi bangsa ini. Semoga dikemudian hari, generasi penerus ini mampu memberantas; korupsi, perampokan, pembunuhan, narkoba, dan prilaku menyimpang lain yang ada di masyarakat.
c.       Budaya Sekolah
Sekolah adalah institusi sosial. Institusi adalah organisasi yang dibangun masyarakat untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf hidupnya. Untuk maksud tersebut sekolah harus memiliki budaya sekolah yang kondusif, yang dapat memberi ruang dan kesempatan bagi setiap warga sekolah untuk mengoptimalkan potensi dirinya masing-masing.
Budaya sekolah adalah keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan kultur lain sebagai subordinasi.[23]
Pendapat lain tentang budaya sekolah juga dikemukakan oleh Schein, bahwa budaya sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.[24]
Pandangan lain tentang budaya sekolah dikemukakan oleh Zamroni  bahwa budaya sekolah adalah merupakan suatu pola asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada.[25]
Budaya sekolah yang positif akan mendorong semua warga sekolah untuk bekerjasama yang didasarkan saling percaya, mengundang partisipasi seluruh warga, mendorong munculnya gagasan-gagasan baru, dan memberikan kesempatan untuk terlaksananya pembaharuan di sekolah yang semuanya ini bermuara pada pencapaian hasil terbaik. Budaya sekolah yang baik dapat menumbuhkan iklim yang mendorong semua warga sekolah untuk belajar, yaitu belajar bagaimana belajar dan belajar bersama. Akan tumbuh suatu iklim bahwa belajar adalah menyenangkan dan merupakan kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan. Belajar yang muncul dari dorongn diri sendiri, intrinsic motivation, bukan karena tekanan dari luar dalam segala bentuknya. Akan tumbuh suatu semangat di kalangan warga sekoalah untuk senantiasa belajar tentang sesuatu yang memiliki nilai-nilai kebaikan.
Budaya sekolah yang baik dapat memperbaiki kinerja sekolah, baik kepala sekolah, guru, siswa, karyawan maupun pengguna sekolah lainnya. Situasi tersebut akan terwujud manakala kualifikasi budaya tersebut bersifat sehat, solid, kuat, positif, dan professional. Dengan demikian suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan untuk bekerja keras dan belajar mengajar dapat diciptakan.
Budaya sekolah yang baik akan secara efektif menghasilkan kinerja yang terbaik pada setiap individu, kelompok kerja/ unit dan sekolah sebagai satu institusi, dan hubungan sinergis antara tiga tingkatan tersebut. Budaya sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif dan profesional.
Budaya sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Oleh karena itu, budaya sekolah ini perlu dikembangkan.
Selanjutnya, dalam analisis tentang budaya sekolah dikemukakan bahwa untuk mewujudkan budaya sekolah yang akrab-dinamis, dan positif-aktif perlu ada rekayasa social. Dalam mengembangkan budaya baru sekolah perlu diperhatikan dua level kehidupan sekolah: yaitu level individu dan level organisasi atau level sekolah. Level individu, merupakan perilaku siswa selaku individu yang tidak lepas dari budaya sekolah yang ada. Perubahan budaya sekolah memerlukan perubahan perilaku individu. Perilaku individu siswa sangat terkait dengan prilaku pemimpin sekolah. Dalam hal ini bisa perilaku kepala sekolah dan terutama guru, bagaimana mereka memperlakukan para siswa. Mencakup antara lain :
a)      Bagaimana guru memberikan perhatian dan menangani masalah yang dihadapi siswa,
b)      Bagaimana guru menanggapi masalah penting yang terjadi di sekolah, terutama yang menyangkut kepentingan siswa,
c)      Bagaimana guru mengalokasikan sumber yang ada, terutama dalam member kesempatan untuk berkomunikasi secara mudah,
d)     Bagaimana para guru memberikan contoh atau tauladan terhadap para siswanya, karena umumnya siswa lebih banyak memperhatikan apa yang dilakukan para guru dari pada mendengarkan apa yang dikatakan guru,
e)      Bagaimana guru member rewards dan punishment atas prestasi dan perilaku siswanya

Sedangkan pada level institusi atau sekolah, mencakup antara lain

1)      Bagaimana design dan pergedungan sekolah, sebab ini juga merupakan bagian dari kultur sekolah,
2)      System, mekanisme dan prosedur sekolah, seperti tata tertib sekolah dll.
3)      Bagaimana ritual, tata cara, dan kebiasaan yang ada di sekoalah, seperti upacara sekolah, seragam sekolah dsb.
4)      Apakah sekolah memiliki semboyan atau jargon yang menjadi kebanggaan seluruh warga sekolah?
5)      Bagaimana filosifi, visi, dan misi sekolah serta bagaimana proses sosialisasinya.[26]

Budaya sekolah ( kultur sekolah ) sangat mempengaruhi prestasi dan perilaku peserta didik dari sekolah tersebut. Budaya sekolah merupakan jiwa dan kekuatan sekolah yang memungkinkan sekolah dapat tumbuh berkembang dan melakukan adaptasi dengan berbagai lingkungan yang ada.
C. Kerangka Pikir
Dalam rangka penyusunan kerangka pikir, peneliti terlebih dahulu melakukan pengamatan terhadap proses pembinaan karakter siswa di MTsN Watampone yang melibatkan guru sebagai pendidik, siswa, metode yang digunakan dalam proses tersebut.
Dalam penelitian  ini  yang  menjadi objek  utama di lakukannya penelitian adalah ke efektifan pendidikan  karakter siswa di MTsN Watampone,  dengan melalui pembinaan karakter pada proses pembelajaran di sekolah,,kegitan ekstrakorikuler dan budaya sekolah,.Dengan adanya pembinaan karakter ini, diharafkan akan terwujid karakter yang  lebih baik dalam diri siswa.
Agar penulisan dalam tesis ini lebih jelas, maka penulis membuat kerangka pikir sebagai landasan yang sistematis dalam membahas masalah-masalah yang akan diteliti, sekaligus menjadi acuan dalam proses selanjutnya sebagai gambaran terkait model pembinaan karakter di MTsN Watampone sebagai berikut :




Ekstra kulikuler

Budaya sekolah

Pembelajaran

MTsN Watampone Kab. Bone

PEMBINAAN KARAKTER

Pramuka, PMR dan OSIS

Pembelajaran

Budaya sekolah
 


















[1] Wahyu Mustakim, Pengaruh Penerapan Pendidikan Karakter Di Sekolah Terhadap Perilaku Akademik Siswa Kelas X Teknik Computer Di Smk Pgri Yogyakarta(tesis;UNY,2010)
[2] Amanarus Sabroh, Pengaruh Pendidikan Karakter Terhadap Pembentukan Kejujuran Siswa Mts Negeri Galur Kulon Progo Yogyakarta(Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013), h. 111
[3] A.Hapidah, Pelaksanaan Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Ekstrkurikuler Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone(Tesis; UMI, 2013), h. 103
[4]Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Balai Puataka; Jakarta, 2007, h. 231
[5]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karekter Perspektif Islam (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) h. 33
[6]Ibid. h. 6
[7] Mochtar Buchori. 2007. Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan Kita. Dikutip dari  www.tempointeraktif.com/hg/kolom/…/kol,20110201-315,id.html diakses hari minggu 2 februari 2016 pukul 18.50 WIB.
[13] Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implimentasi (cetakan pertama, Alfabeta: Bandung, 2012), h. 36

[14] Ahmat Tafsir, Ilmu Pendidikan Islami, Bandung (Bandung; Rosda Karya, 2012).h.  20-21.
[15]Ibid., h. 21-22.
[19]Six pillars of characters ini dicetuskan oleh sekelompok guru, ahli etika, dan pelajar yang mengadakan pertemuan di Aspen. Gagasan six pillars ini diinspirasi dari buku  Thomas Lickona, Education for Character. 1991. Keenam karakter pokok ini dapat dipakai sebagai instrument pengukuran karakter siswa.
[22] Anifral Hendri. (2008). Ekskul Olahraga Upaya Membangun karakter Siswa. http://202.152.33.84/index.php?option=com_content&task=view&id=16421&Itemid=46. 2 februari 2016
[23]HAR Tilaar, Pendidikan Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung : PT Remaja Rosda Karya., 2002), h. 25
[24] Zamroni, Dinamika Peningkatan Mutu (Yogyakarta: Gavin Kalam Utama. 2011), h. 200
[25] Ibid. h. 297

Tidak ada komentar:

Posting Komentar