MENU

Rabu, 14 September 2016

Pendahuluan : Model Pembinaan Karakter Siswa di MTsN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada kualitas Pembinaan. Peran Pembinaan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Era globalisasi menuntut setiap bangsa memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berdaya tahan kuat dan perilaku yang andal. Kualitas SDM sangat penting, karena kemakmuran suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh sumber daya alamnya saja, melainkan SDM-nya juga. Sangat memprihatinkan di saat SDM bangsa Indonesia berada di peringkat 105 dari 173 negara-negara di dunia. Rendahnya SDM di Indonesia, dikarenakan rendahnya mutu Pendidikan. Selanjutnya, Pendidikan adalah kunci untuk membangun SDM.[1]
Selain rendahnya SDM di Indonesia terdapat banyak penyimpangan perilaku di kalangan pelajar. Salah satu yang paling menghawatirkan adalah tawuran antar pelajar. Pemberitaan media tentang tawuran antar pelajara semakin marak, terutama sepanjang tahun 2012. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat sudah terjadi 147 kasus tawuran dengan korban sebanyak 82 anak.[2] Tawuran antar  pelajar merupakan persoalan yang sangat kompleks karena berkaitan langsung dengan perilaku destruktif siswa.
Persoalan tawuran antar pelajar mengindikasikan bahwa kebijakan pendidikan karakter yang dibuat pemerintah belum terealisasi sebagaimana yang diharapkan. Jangankan persoalan tawuran antar pelajar, masalah-masalah seperti bolos, menyontek, terlambat ke sekolah, pornografi, pembangkangan, narkoba dan miras telah sangat memiriskan banyak pihak. Berhadapan dengan berbagai persoalan di atas, maka implementasi pendidikan karakter menjadi semakin urgen.
Di negara ini tujuan Pendidikan nasional diidealisasikan sebagaimana termuat dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, bab II Pasal 3, dimana “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi Marusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’[3]. Jika idealisasi tersebut menjelma dalam realita, maka arus siswa akan memasuki Pembinaan ke jenjang yang lebih tinggi, dan tatkala mereka lulus, mereka akan menjadi modal utama lahirnya SDM yang terampil, duduk pada jajaran terdepan memiliki moralitas tinggi. Karenanya, pendidikan moral dan agama di  sekolah-sekolah atau di dalam keluarga, dan moralitas perilaku Pendidikan harus dimapankan secara berlanjut dan konsisten dari zaman ke zaman.[4]
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut.
Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill.
Teladan kepribadian dan kewibawaan yang dimiliki oleh guru akan mempengaruhi positif atau negatifnya pembentukan kepribadian dan watak anak. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.
 


Terjemahnya:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.[5]
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Rasulullah adalah suri tauladan dan gurunya-guru adalah Rasulullah, oleh karena itu guru dituntut memiliki kepribadian yang baik seperti apa yang ada pada diri Rasulullah SAW. Kedudukan guru yang demikian, senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapanpun diperlukan. Lebih-lebih untuk mendidik kader-kader bangsa yang berbudi pekerti luhur (akhlaqul karimah).
Dengan bekal Pembinaan karakter yang kuat diharapkan akan lahir anak-anak masa depan yang memiliki keunggulan kompetitif yang ditandai dengan kemampuan intelektual yang tinggi (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang diimbangi dengan penghayatan nilai keimanan, akhlak, psikologis, dan sosial yang baik.[6]
Pembinaan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Persoalan karakter masyarakat (bangsa) ini bukan hanya persoalan Indonesia. Negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa juga mengalami persoalan ini. Peserta didik saat ini sepertinya mengalami kekosongan karakter. Kekosongan karakter ini yang mengakibatkan kemerosotan akhlak peserta didik. Untuk itu Pembinaan karakter dibutuhkan untuk menumbuhkan terpuji pada diri peserta didik.
Peristiwa–peristiwa yang menyimpang menunjukkan karakter generasi muda Indonesia sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Beberapa faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah: pertama, sistem pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter, tetapi lebih menekankan pengembangan intelektual, misalnya sistem evaluasi pendidikan menekankan aspek kognitif/akademik, seperti Ujian Nasional (UN). Kedua, kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.
Thomas Lickona dalam buku Anasufi Banawi mengungkapkan sepuluh tanda perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa yaitu:
Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, dan adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.[7]
Kesepuluh perilaku di atas sudah tampak pada siswa saat ini karena minimnya pendidikan dan pembinaan karakter di sekolah. Mengingat pendidikan karakter sangat berperan dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang kuat, maka perlunya pendidikan pembentukan karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Oleh karena itu strategi yang tepat sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan dari pendidikan karakter tesebut.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Oleh karena itu dari latar belakang di atas sebagai penerus bangsa yang konsen di bidang Pembinaan, dipandang penting melakukan kajian secara mendalam dalam bentuk penelitian tentang karakter siswa di masa pubertas pada jenjang Pembinaan menengah pertama atau madrasah tsanawiyah.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana model pembinaan karakter siswa di MTsN Watampone Kabupaten Bone?
2.      Bagaimana efektifitas pembinaan karakter siswa melalui pembelajaran, ekstrakurikuler dan budaya sekolah di MTsN Watampone Kabupaten Bone?
C.    Defenisi Opresional Variabel
Adapun istilah yang perlu ditegaskan dalam judul penelitian ini adalah
Model  pembinaan  karakter  siswa adalah cara penanaman integritas pada diri siswa agar siswa memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut adalah asli, dan mengakar pada kepribadian siswa tersebut dan merupakan mesin pedorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, serta merespon sesuatu. Model pembinaan karakter ini dapat di ukur dari proses pembinaan yang terjadi di sekolah.
D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
a.       Model pembinaan karakter siswa di MTsN Watampone Kabupaten Bone.
b.      Efektifitas pembinaan karakter  siswa melalui kegitan pembelajaran, ekstrakokurikiler dan budaya sekolah di MTsN Watampone Kabupaten Bone

2. Kegunaan Penelitian
Dalam penelitian yang penulis lakukan, terdapat beberapa manfaat baik secara teoritis maupun praktis.
a.       Secara teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan secara teoritis untuk memperkaya khasanah keilmuan dan sebagai tolok ukur bagi setiap pengajar dalam peranannya di bidang belajar mengajar.
b.      Secara praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi semua pihak yang berkompeten dalam bidang pendidikan, khususnya guru untuk membangun karakter  siswa.
















[1] Munawar Shaleh, Politik Pendidikan: Membangun Sumber Daya Bangsa dengan Peningkatan Kualitas Pendidikan (Jakarta : Grafindo Khazanah Ilmu, 2005), h. 12.
[2] www.megapolitan.com 21 Desember 2012. Di akses 1 november 2015.
[3] UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional, bab II pasal 3. hal 3
[4] Sudarwan Danim, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2003), Cet. 1, hlm. 63.
[5]
[6] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Misaka Galiza, 2003), Cet. 2, hlm. 9.

[7] Anasufi Banawi. Keefektifan Model Pembelajaran IPA Berbasis Karakter dalam Meningkatkan Budi Pekerti Siswa Sekolah Dasar. Tesis. Yogyakarta: UNY. 2009, h. 25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar