MENU

Jumat, 28 Oktober 2016

16 FAKTA SUMPAH PEMUDA YANG ANAK MUDA SEKARANG BELUM TAHU

  1. Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II yang berlangsung selama 2 hari di Jakarta, yakni tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres itu melangsungkan tiga rapat: rapat pertama di Gedong Katholieke Jongenlingen-Bond, Waterlooplein (sekarang daerah Lapangan Banteng), rapat kedua di Oost Java Bioscoop Koningsplein Noord (sekarang jalan Medan Merdeka Utara), dan rapat ketiga di gedong Indonesisch Clubgebouw Kramat 106. Nah, Sumpah Pemuda itu dibacakan di Rapat Ketiga.
  2. Waktu itu, jumlah peserta yang hadir mencapai 700 ratus orang. Tetapi yang tercatat sekarang, dengan merujuk pada daftar hadir, hanya 82 orang. Kongres Pemuda saat itu memang diawasi sangat ketat oleh Belanda. Bahkan, pada hari kedua setelah Kongres ditutup, polisi kolonial menyita semua dokumen-dokumen kongres. Sangat mungkin terjadi, daftar hadir ratusan peserta lainnya hilang karena penyitaan itu.
  3. Sebagian besar peserta Kongres Pemuda ke-II merupakan utusan organisasi-organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Ambon, dan Perhimpoenan Peladjar2 Indonesia (PPPI). Kongres ini juga dihadiri oleh utusan golongan timur asing Tionghoa.
  4. Rumusan Sumpah Pemuda, seperti kita kenal hari ini, berasal dari gagasan dan inisiatif Mohammad Yamin. Ihwal rumusan Sumpah Pemuda ini menarik dan terkesan kocak. Pada sesi terakhir Kongres, saat Mr Sunarjo dari utusan Kepanduan sedang berpidato, Yamin menuliskan rumusan Sumpah Pemuda itu lewat secarik kertas dan kemudian menyodorkannya kepada pimpinan Sidang, Soegondo Djojopoespito, sambil berbisik: “Saya punya rumusan resolusi yang luwes”. Soegondo kemudian membacakan surat berisi rumusan resolusi itu, lalu memandang ke arah Yamin. Dalam sekelebat mata, Yamin membalas pandangan Soegondo itu dengan senyuman. Spontan Soegondo membubuhkan paraf “Setuju”. Selanjutnya Soegondo meneruskan usul rumusan itu kepada Amir Sjarifuddin yang memandang Soegondo dengan mata bertanya-tanya. Soegondo mengangguk-angguk. Amir pun memberikan paraf “Setuju”. Begitu seterusnya sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.
  5. Sejak hari pertama Kongres, yel-yel “Merdeka” sudah berulangkali berkumandang. Sampai-sampai polisi Belanda, yang mengawasi ketat jalannya Kongres, mengeluarkan larangan kata “Merdeka” dalam Kongres tersebut.
  6. Sebagian pembicara dalam Kongres Pemuda II masih menggunakan bahasa Belanda. Salah satunya adalah Siti Soendari. Notulensi rapat saja ditulis dalam bahasa Belanda. Yang mahir menggunakan bahasa Melayu saat itu adalah Mohammad Yamin. Karena itulah dia ditunjuk sebagai Sekretaris Sidang untuk memudahkan penerjemahan pidato dan kesepakatan sidang ke dalam bahasa Melayu–kelak bahasa Indonesia.
  7. Untuk pertamakalinya, lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan langsung oleh penciptanya, Wage Roedolf Soepratman, dengan gesekan biola. Tetapi tanpa syair, karena dikhawatirkan kata “Indonesia” dan “Merdeka” dalam syair lagu itu bisa menimbulkan masalah dengan petugas Polisi Belanda.
  8. Peci, yang diperkenalkan oleh Bung Karno sebagai identitas pergerakan nasional, banyak dipakai oleh peserta Kongres. Ini juga menandai awal penggunaan peci sebagai identitas pergerakan di forum resmi yang bersifat luas. Namun, karena saat itu peci masih langka di Hindia-Belanda, maka sebagian peserta kongres menggunting pinggiran topi Eropanya sehingga menyerupai peci.
  9. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam suksesnya Kongres Pemuda ini adalah Amir Sjarifoeddin Harahap. Dia mewakili Jong Bataksbond dan PPPI. Di kongres itu, Amir berperan sebagai Bendahara dan beberapa kali memimpin persidangan. Kelak dia berkontribusi besar dalam memimpin perjuangan anti-fasisme. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Amir menduduki sejumlah jabatan penting pemerintahan, yakni Menteri Pertahanan dan Menteri Penerangan. Bahkan dia pernah menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia ke-2. Di kemudian hari, Amir terlibat dalam pembentukan Front Demokrasi Rakyat (FDR) bersama kekuatan politik kiri lainnya. Sayang, karena pertentangan antara laskar Rakyat dengan program Rera-nya Kabinet Hatta, FDR bersimpang jalan dengan pemerintah yang berujung pada peristiwa “Madiun 1948”. Amir ditangkap tanggal 18 November 1948, lalu dieksekusi mati bersama 10 kawannya di  Desa Ngalihan, pada 19 Desember 1948. Sebelum dieksekusi, Amir menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Internasional”. Lalu peluru dari tentara negeri yang diperjuangkannya memberondong tubuhnya yang mulai kurus dan tersungkur di tanah sembari menggenggam Al-kitab.
  10. Hampir tidak ada perdebatan yang keras dalam kongres itu. Penerimaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional nyaris tidak mendapat penolakan, termasuk dari Jong Java. Para pembicara berusaha menghindari isu-isu yang mengundang perceraian, seperti isu etnis dan agama. Hanya Jong Islamieten Bond yang gigih memperjuangkan Indonesia Merdeka harus berdiri di atas azas Islam. Namun demikian, Jong Islamieten Bond tetap turut menandatangani resolusi atau ikrar Sumpah Pemuda.
  11. Rata-rata usia pemuda pada saat itu baru masuk 20-an, banyak pula yang di bawah 18 tahun. Mereka berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Daerah asal mereka berbeda, suku mereka berbeda, pun agama mereka. Lantaran mengenyam pendidikan Belanda, mereka kebanyakan fasih berbahasa Belanda dan tentunya bahasa daerah masing-masing. Hanya segelintir yang lancar bahasa Melayu, bahasa pergaulan masa itu. Pada 1920-an, para pemuda ini terkotak-kotak menjadi anggota berbagai perkumpulan yang bersifat kedaerahan.
    Setiap malam, para mahasiswa berdiskusi tentang berbagai hal. Kalau sudah larut malam, biasanya pukul 1, saat sudah capek diskusi, para mahasiswa mengumpulkan uang untuk mencari kopi plus sate atau cari soto ke Pasar Senen. Acara diskusi pun berubah dari yang berat-berat ke yang ringan, “lebih mendekati soal-soal yang biasanya dekat ke hati pemuda,” kata Abu Hanifah, seorang pelaku Sumpah Pemuda pada 1977 di majalah Prisma. Yah, tak jauh soal wanita yang ditaksir seperti obrolan pemuda sekarang.
    Semua orang pasti tahu saat Sumpah Pemuda untuk kali pertama diperdengarkan lagu yang kemudian jadi lagu kebangsaan kita: “Indonesia Raya”. Tapi pernahkah kita bertanya, kenapa saat itu tidak dinyanyikan lagu “Indonesia Raya” lengkap dengan syairnya?
    Jawabnya masih ada hubungan dengan larangan polisi Belanda untuk menyebut kata “merdeka” dalam rapat. Maka yang terjadi, Minggu, 28 Oktober 1928, jelang penutupan rapat, seorang pemuda langsing bernama W.R. Soepratman menenteng biola mendekati pemimpin rapat Soegondo menyerahkan secarik kertas berisi syair lagu yang digubahnya.
    Menangkap judul “Indonesia Raya” dan begitu banyak kata “merdeka” dan “Indonesia” di situ, Soegondo langsung melirik polisi Belanda yang tekun mengawasi kongres. Soegondo khawatir rapat bisa dibubarkan paksa bila lagu itu diperdenarkan lengkap dengan syairnya. Ia membolehkan Soepratman memainkan lagunya tapi tanpa syair.dan akhirnya Musik itu berakhir dengan tepuk tangan panjang.
    Dalam catatan Kuisbini, karib sesama komponis, Soepratman kerap datang ke warung Asih di Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri membunuh sepi. Namun di warung itu pun ia cuma melamun ditemani kue dan secangkir kopi. “W.R. Soeprratman menutup rahasia hidupnya dalam Taman Asmara,” tulis Kusbini suatu kali. “Taman Asmara” adalah istilah Kusbini untuk patah hati sahabatnya. Sayang hingga akhir hayatnya, Soepratman meninggal tengah malam 17 Agustus 1938, persoalan cinta itu tetap jadi teka-teki hingga sekarang.
  12. Soegondo kemudian berkata, “Jangan gunakan kata ‘kemerdekaan’, sebab rapat malam ini bukan rapat politik dan harap tahu sama saja.” Hal itu disambut tepuk tangan riuh dan tawa hadirin.
  13. Ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato di sesi terakhir kongres, sekretaris Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan.” Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf “setuju.” Usulan resolusi itulah yang menjadi isi sumpah pemuda yang kita hafal sampai sekarang ini.
  14. Musisi dan cinta seharusnya berkait erat. Tapi entah mengapa, W.R. Soepratman meninggalkan misteri seputar kehidupan cintanya. Soperatman dikenal sebagai wartawan yang suka bermain musik dan kongko-kongko dengan para pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Kramat Raya 106. Ia mengenal musik sejak usianya 11 tahun. Pada 1938, ia pernah dibui Belanda. Usai dibebaskan, Soepratman sakit-sakitan.
  15. Sabtu, 27 Oktober 1928. Jarum jam menunjukkan pukul 19.45 ketika Soegondo Djojopoespito membuka Kongres Pemuda II. Soegondo pemimpin rapat yang tangkas dan banyak akal. Perlu diketahui, yang ikut rapat bukan cuma para pemuda, tapi juga diawasi langsung polisi Belanda. Pada satu kesempatan, polisi Belanda protes karena peserta rapat menggunakan kata “merdeka”, hal yang dilarang ketika itu.
  16. Para pencetus Sumpah Pemuda, yang umumnya mahasiswa, banyak tinggal di rumah kos-kosan di Jalan Kramat 106 yang kini disebut Museum Sumpah Pemuda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar